Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer


 BUDAYA POSITIF

FIFIT HUMAIRAH, CGP REKOGNISI A. 10

    Budaya positif adalah penerapan nilai nilai kebajikan mulai dari nilai nilai kebajikan yang ada di daerahnya (adat istiadat daerah) masing masing, nilai nilai kebajikan yang diyakini pada agamanya masing masing sampai pada nilai nilai kebajikan Universal (nilai kebajikan yang umum tidak terbatas bangsa, suku, agama, adat istiadat) yang diterapkan atau dilaksanakan di sekolah oleh setiap warga sekolah dengan kesadaran yang berasal dari dalam dirinya sendiri bukan karena paksaan atau karena ingin mendapat imbalan

    Budaya positif yang ingin diterapkan disekolah bisa dimulai dengan merubah mindset guru dari  paradigma stimulus respon ke paradigma teori kontrol. Guru sudah mempunyai cara berfikir baru bahwa setiap apa yang dilakukan oleh siswa baik atau buruk, pasti mereka mempunyai alasannya masing masing. Setiap alasan yang mereka pilih pasti tidak akan terlepas dari kebutuhan dasar sebagai manusia, kita tahu ada 5 kebutuhan dasar manusia yaitu bertahan hidup (survival), cinta dan kasih sayang (penerimaan), penguasaan (pengakuan), kebebasan (kebutuhan dan pilihan), kesenangan. Guru juga mempunyai cara berfikir baru bahwa setiap anak tidak bisa dikontrol oleh guru, tetapi yang dapat mengontrol perilaku anak adalah anak itu sendiri, sehingga guru memberikan pemahaman dan memunculkan kesadaran anak untuk selalu berbuat sesuai dengan nilai nilai kebajikan, sehingga dia mampu mengontrol dan mengawasi dirinya sendiri dalam setiap apa yang dilakukannya dan dalam setiap apa yang ingin dicapainya.

     Setelah guru dapat merubah mindset dari paradigma stimulus respon ke paradigma teori kontrol, maka guru dapat memulai disiplin positif, menurut KHD disiplin positif ini adalah disiplin yang muncul dari dalam diri pribadi setiap orang (motivasi internal) bukan karena pengaruh atau tekanan orang lain atau kata lainnya self discipline. Sebagaimana menurut Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan ada 3 alasan motivasi perilaku manusia yaitu

Ø Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman

Ø Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.

Ø Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya

Dari ketiga motivasi prilaku manusia dalam mewujudkan disiplin positif yang harus ditanamkan dalam murid-murid adalah motivasi yang nomer 3 karena dengan memiliki motivasi tersebut, mereka telah memiliki motivasi intrinsik yang berdampak jangka panjang, motivasi yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Mereka akan tetap berperilaku baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka hargai dan yakini.

      Penerapan disiplin positif ini harus dilakukan oleh guru sebelum mereka memberikannya kepada murid, karena seorang guru adalah teladan bagi murid muridnya, Ingngarso Sung Tulodo. Jika gurunya dapat menerapkan disiplin positif dengan baik, maka murid akan melihat dan meneladaninya dengan baik pula.

    Untuk menerapkan disiplin positif ini, seorang guru harus dapat memilih posisi kontrol yang tepat apabila murid melakukan hal hal yang tidak sesuai dengan nilai nilai kebajikan yang telah diterapkan disekolah atau telah dibuat dalam keyakinan keyakinan kelas mereka. Menurut Gossen ada lima posisi kontrol restitusi yaitu sebagai penghukum, sebagai pembuat rasa bersalah, sebagai teman, sebagai pemantau dan sebagai manajer. Untuk penerapan disiplin positif yang memunculkan motivasi internal, maka seorang guru lebih tepat memilih posisi kontrol sebagai manajer karena dengan posisi manajer seorang guru dapat mengingatkan kembali nilai apa yang telah dilanggar sehingga murid menyadarinya dan dengan kesadarannya sendiri dia ingin memperbaiki dirinya, dimana sebelumnya dia merasa dirinya telah terlepas dari rasa gagal menjadi rasa diterima rasa sukses dengan menstabilkan identitas yang dilakukan oleh guru. 

    Apabila seorang guru telah memilih posisi kontrol sebagai manajer apa setiap masalah yang dilakukan oleh muridnya akan diselesaikan dengan menggunakan segitiga restitusi, Adapun ada tiga langkah dalam melaksanakan segitiga restitusi yaitu menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah dan menanyakan keyakinan yang telah menjadi keyakinan bersama melalui pembuatan keyakinan kelas.

    Keyakinan kelas dibuat untuk membiasakan murid melakukan segala sesuatu berdasarkan nilai nilai kebajikan Universal. Langkah membuat keyakinan kelas

1. Menampung usulan siswa mengenai peraturan peraturan yang ingin diterapkan di kelas agar proses belajar mengajar di kelas menjadi kondusif

2. Mengubah peraturan yang biasanya merupakan kalimat negatif menjadi kalimat positif

3. Menggabungkan kalimat positif dan mengaitkan dengan keyakinan yang perlu diterapkan dikelas, dan tentu saja keyakinan yang diterapkan berasal dari nilai nilai kebajikan, sehingga keyakinan kelas tidak sebanyak peraturan kelas. 




Posting Komentar untuk " "

Mengukir hatiku padamu
MERDEKA YANG DIDAMBAKAN
Gambar